My Childhood
Daftar Isi
Coba tebak, bagaimana nanti dewasanya anak-anak dalam
potret usang ini? Akankah mereka kembali bertukar sapa atau malah saling
melupakan?
Mungkin banyak yang beranggapan, apa nyali mereka untuk
menatap masa depan? Tidak kah tertulis takdir bagi mereka? Tentu saja, kadang
kemelut takdir itu meresahkan. Tidak akan tahu kapan harus berakhir, karena selalu ingin
dimulai dengan hal-hal baru.
Hal itu dikarenakan, kami bukan lagi
anak tujuh belas tahun yang masih mengurus kartu tanda penduduk. Kami sudah
jauh dari itu. Bahkan sebagian anak, sudah ada yang membangun sebuah keluarga
kecil. Sebuah keluarga bahagia yang selalu didambakan banyak orang. Ya. Itu
adalah sedikit kabar yang saya tahu sejauh ini. Selain ada yang masih berputar-putar
dengan studi dan yang memutuskan untuk bekerja.
Memang dulu, kami hanyalah anak polos.
Itu adalah ingatan samar-samar saat mengingat masa lampau. Barangkali juga karena banyak yang
beranggapan kalau anak seusia kami waktu itu adalah anak yang polos. Ah,
sudahlah!
Sebenarnya tulisan ini tercipta karena ada satu alasan. Alasan yang
kadang sulit sekali untuk dimengerti, tetapi kami pun tidak bisa
menentangnya.
Alasan itu, karena kami kehilangan
satu anggota keluarga. Kami kehilangan satu kerabat yang mewarnai kepolosan
dulu. Memang, setelah kami keluar dari Taman Kanak-Kanak, tak banyak dari kami
yang masih bertukar kabar. Apalagi untuk teman yang memilih berbeda sekolah
untuk melanjutkan pendidikan. Mungkin hal itu, yang membuat saya berpikir toh kita
sudah berbeda sejalan, tidak perlu dirisaukan. Dia punya jalannya sendiri.
Sejak saat itu kami tak pernah memberi
kabar. Bertemu pun terlalu sulit, apalagi untuk bertegur sapa. Dikarenakan
perbedaan sekolah melahirkan benteng yang memisahkan. Dengan membanggakan,
kadang memuji sekolah masing-masing. Kadangkala, kegeraman dirasa ketika
tersulut kesalahpahaman. Akibatnya, kami menjadi orang asing yang seolah-olah
baru pertama kali bertemu. Dengan begitu tidak akan pernah ada lagi kepedulian.
Hingga tibalah sebuah kabar setelah
kurang lebih dua belas tahun. Sebuah kabar duka. Sehingga warna-warni kepolosan
kami hilang satu.
Dari peristiwa ini saya tersadar,
bahwa tengah melupakan satu hal. Mereka adalah orang-orang yang menemi saya.
Mereka adalah orang-orang bercakap saya. Mereka adalah orang-orang yang selalau
ada untuk saya. Mereka adalah teman sekaligus keluarga saya. Lalu apakah saya
akan kembali mengabaikan mereka?
Saya mengakui, bahwa hal tersebut
adalah kesalahan besar. Pura-pura tidak mengenali satu sama lain adalah
perbuatan termudah. Namun, saya tidak bisa membohongi diri, kalau mereka selalu
ada diingatan.
Ini tidak berlaku untuk teman TK,
SD, SMP, SMA dan sebagainya. Ini untuk kalian, yang pernah mewarnai ingatan saya.
Untuk kalian, yang mungkin tidak peduli lagi dengan keberadaan dan bagaimana
saya bernapas. Untuk kalian yang masih mengingat kenangan-kenangan kecil yang
pernah tercipta. Untuk
kalian, yang sudah menyisihkan waktunya untuk membaca hal yang kurang penting
ini.
Akhir kata, saya membuat
hal semacam ini karena kalian bukan orang asing, dan tidak akan menjadi asing
dalam ingatan. Dengan
harapan, kalian bisa meluangkan waktu lima menit saja untuk bertukar kabar
dengan sesama. Terima kasih, saya tunggu kabar terbaru dari kalian dan jangan
lupa bahagia.
Salam,
Lumajang, 23 Januari 2018

Posting Komentar